Jamur Tiram Putih

Archive for the ‘Cara Budidaya Jamur Tiram Putih’ Category

Tips 1 (penyiapan serbuk gergaji)

Serbuk kayu/gergaji yang umum digunakan dalam budidaya jamur tiram putih adalah :
– Kayu sengon laut
– Kayu mahoni
– Kayu nangka/mawar
– Kayu kampung
– Kayu meranti

WARNING, Jangan menggunakan kayu yang bergetah seperti KAYU CEMARA, DAMAR, PINUS

Tips :
– Budidaya yang termudah adalah menggunakan serbuk gergaji dari kayu sengon laut
– Letakkan kayu di lokasi yang terlindung, sebaiknya jangan kena hujan, karena nanti akan kesulitan dalam menentukan kadar air
– Serbuk gergaji jangan langsung digunakan, tapi timbun dahulu selama kurang lebih 3 minggu
– Pada saat ditimbun, campurlah serbuk gergaji dengan kapur dengan perbandingan: 20 kg serbuk gergaji ditabur sekitar satu genggam kapur.
– Tujuan menaburkan kapur adalah untuk mengatur ph dari serbuk gergaji
– Ada baiknya tetap di cek ph sekitar 7.
WARNING, jika ph sampai 8 atau lebih 90% akan menyebabkan kegagalan

Triks :
- Ukuran serbuk gergaji yang kasar dan halus menentukan jumlah.
– Sebaiknya pilih ukuran serbuk gergaji yang halus karena lebih mudah dalam pengaturan kadar air, dan juga berat yang didapat biasanya lebih banyak.
– Sebaiknya sesedikit mungkin biaya dikeluarkan untuk serbuk gergaji, idealnya memang budidaya jamur adalah memanfaatkan limbah serbuk gergaji.
– Biasanya di daerah Malang dan sekitarnya, harga serbuk gergaji jika beli curah dalam satu truknya sekitar Rp.1.200.000. Dan bisa menghasilkan kurang lebih 4000 baglog. Berarti biaya per baglog untuk serbuk gergaji adalah Rp.300,-
WARNING : JANGAN DIBELI JIKA DI KURS KAN KE BAGLOG HARGA DIATAS Rp.500,- Kecuali harga jamur tiram di daerah Anda lebih dari Rp.12.000 /kg di tingkatan petani.

- Umumnya dari satu truk curah, bobot serbuk gergaji dengan kadar air normal adalah sekitar 4-5 ton.

- Lebih menguntungkan membeli serbuk gergaji dalam zak (pakan ternak). Berat rata-rata per zak nya 20kg. Satu truk bisa membawa hingga 250 zak lebih.

Step 2 (membuat campuran media baglog)

Setelah serbuk gergaji cukup waktu, dibuatlah campuran media baglog.
Refferensi campuran antara lain :

- Serbuk gergaji 100kg
– Tepung jagung 10 kg
– Dedak/bekatul 10 kg
– Pupuk sp 36 0.5kg
– Gip 0.5 kg
– air 50 – 60%

Referensi lain :
– Serbuk gergaji
– 5 – 15% bekatul
– 2% kapur
– 2 % gips
– air 65 %

Cukup sederhana ternyata..
Kalau campuran kami :
– 100 kg serbuk gergaji
– Bekatul 9kg – 15kg
– Opsional tepung jagung 5kg kalau memungkinkan
– Kalsium 1 kg
– Gula (kemudian dilarutkan) 0.5kg

TIPS NOTE :
Bekatul dan tepung jagung adalah nutrisi media. Ukurannya sangat tergantung jenis stren dari jamur tiram putih yang ingin dibudidayakan.
Untuk daerah dingin (suhu rata2 di bawah 25derajat C) memungkin kan untuk menambah nutrisi hingga 15-20%, tetapi untuk budidaya di daerah panas (diatas 29derajat C) sebaiknya maksimal menggunakan nutrisi 10%. Karena bibit jamur sangat rentan terhadap bakteri termofilik.

Trik
– Usahakan campuran tercampur dengan homogen dan merata
– Gunakan plastik roll polipropilen 0.05 x 18cm yang dipotong2 per 35cm
– Kadar air jangan terlalu tinggi
– Berat baglog rata-rata sebelum di steam untuk ukuran ini adalah 1350gram
– Lokasi pencampuran usahakan yang higienis.
– Sehari sebelum digunakan mencampur, ada baiknya di sterilisasi menggunakan formalin

Sebaiknya kondisi media sepadat mungkin. Pemadatan bisa dengan manual yaitu ditekan-tekan menggunakan botol, atau secara semi mekanis menggunakan alat press.
Kualitas baglog semakin padat, akan semakin baik

Step 3 (sterilisasi media baglog)

Media yang telah dikemas dalam bentuk baglog, selanjutnya harus disterilkan. Sterilisasi media biasanya dengan dikukus atau di uapkan hingga suhu dalam media baglog mencapai 100 derajat C.

Cara 1
Diuapkan langsung menggunakan drum
– Susun baglog di dalam drum (biasanya berkapasitas 60 baglog)
– Uapkan hingga suhu mencapai 90 – 100 derajat C- Setelah suhu tercapai, biarkan konstan selama 3 – 4 jam
– Untuk ekonomisnya gunakan kayu bakar yang bisa dibantu dengan batu bara, lalu di blower dengan kipas angin.
– Bisa juga menggunakan kompor minyak tanah, tetapi sekarang karena konversi ke gas LPG, penggunaan kompor minyak tanah menjadi kurang ekonomis.
– Biarkan mendingin hingga suhu di kisaran 50 derajat, baru dipindahkan ke ruang inokulasi

Cara 2
menggunakan ruang steam (steamer)
– Susun baglog secara berdiri (vertikal)
– Jika disusun horizontal (tidur) kepadatan baglog harus bagus dan isi steamer harus penuh.
– JIKA KEPADATAN KURANG JANGAN DISUSUN TIDUR, SOALNYA BAGLOG BISA RUSAK (Oleh tekanan uap panas ) SAAT PROSES STERILISASI.
– Uap panas di alirkan ke dalam steamer menggunakan boiler
– Penggunaan boiler ini untuk menghasilkan uap panas dengan optimal dengan penggunaan bahan bakar yang ekonomis

TRIK :

- Jangan lupa menutup ujung media baglog dengan plastik sebelum dikukus.

- Pastikan suhu media (termometer tertancap ke baglog) telah mencapai 100 derajat C

- Media baglog yang matang (cukup dikukus) diindikasikan dengan warna yang lebih gelap dari pada sebelum dikukus

- Lama proses sterilisasi jika menggunakan steamer atau drum ini berkisar antara 10 – 14 jam.

- Jika menggunakan autoclaf lama sterilisasi biasanya hanya memakan waktu 6 jam

Keterangan mengenai boiler lebih lanjut dapat dilihat dalam link berikut ini :

Step 4 (INOKULASI MEDIA)

Baglog yang telah disterilisasi dalam steamer diletakkan dalam ruang inokulasi

Yang PERLU diperhatikan :

- Perletakan baglog jangan ditumpuk terlalu tinggi, maksimal 3 tumpuk saja.

- Ruang inokulasi harus bersih sekali, sangat rapat, bahkan tidak boleh ada udara masuk. (sebaiknya sih diberi Air Conditioning AC).

- BAGLOG SUDAH CUKUP DINGIN SAAT DI INOKULASI

- WARNING, baglog yang masih bersuhu diatas 50 derajat akan beresiko mati jika diinokulasikan bibit jamur

Bahan yang perlu disiapkan saat inokulasi bibit jamur tiram :

  • - Bunzen (kompor spritus kecil)
  • - Bibit jamur tiram putih
  • - Spatula atau stang stainless steel
  • - Spritus untuk bahan bakar bunzen
  • - Alcohol 96% untuk sterilkan tangan, kaki, dan badan
  • - Kertas koran untuk penutup baglog
  • - Karet

Langkah inokulasi:

  1. Semprot tangan, kaki, badan dengan alcohol sebelum memasuki ruang inokulasi
  2. Nyalakan bunzen dan USAHAKAN SELAMA PROSES INOKULASI, BIBIT SELALU DEKAT DENGAN NYALA API.
  3. Buka cincin baglog, lalu masukkan bibit jamur tiram putih secukupnya dalam baglog
  4. pasang kembali cincin, dan tutup dengan kertas koran dan rapatkan dengan karet
  5. KERTAS KORAN HARUS DALAM KEADAAN STERIL JUGA, SEBAIKNYA IKUTKAN SAAT PROSES STERILISASI BAGLOG DALAM STEAMER.

Tips

- Tingkat keberhasilan inokulasi sangat tergantung ketelitian, kebersihan ruang inokulasi sterilnya tangan dan kaki, dan dekat dengan nyala api bunzen

- Inokulasi yang baik biasanya akan memunculkan bibit jamur berupa seperti mengapas

- dalam waktu kurang lebih 10 hari, mizelium telah mencapai hampir 50%.

- Setelah di inokulasikan, letakkan media baglog dalam rak-rak inkubasi boleh dalam posisi vertikal atau horizontal mana saja yang lebih menghemat tempat.

- Rak inkubasi hendaknya bersih, terletak dalam ruangan yang tidak terlalu terang

- Setelah 10 hari boleh dilakukan sirkulasi udara, atau langsung saja dilakukan pemindahan ke kumbung

Tips cara mudah merawat jamur tiram putih dengan hasil yang memuaskan, untuk menjaga kualitas hasil panen jamur tiram putih, perawatan terhadap baglog jamur haruslah optimal.

Untuk itu perlu terus dipantau dan dijaga kelembaban udara kumbung berkisar antara 90 – 95% dengan cara melakukan penyiraman dan pengabutan air secara teratur.
Penyiraman biasanya dilakukan pada pagi hari dan sore menjelang malam untuk menurunkan suhu sekaligus merupakan proses raising bagi baglog jamur yang belum tumbuh jamur.
Apabila telah muncul jamurnya, maka penyemprotan air dilakukan pada lantai dan kumbung, tidak mengenai tubuh buah.
Info Kontak : 085735344972/081252632901
Konsultasi Masalah Jamur Tiram Putih
Wilayah Kalimantan Timur dan Sekitarnya

Binis produksi jamur tiram putih kian menjadi bisnis yang menjanjikan. Jamur tiram bisa diolah menjadi berbagai macam menu olahan yang lezat. Hal ini menjadikan permintaan pasar terhadap jamur tiram selalu tinggi, apalagi cara budidaya jamur tiram putih ini tidaklah sulit. Siapapun bisa mencoba.

Jika ingin membudidayakan jamur tiram, terlebih dahulu persiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan.

Bahan

  • Bibit jamur berkualitas.
  • Air untuk membasahi bekatul.
  • Bekatul.
  • Kapur dolomite untuk mengatur pH.
  • Serbuk gergaji, sebaiknya diambil dari serbuk kayu0[ yang homogen, karena serbuk gergaji dari kayu yang heterogen dapat menjadikan proses pengomposan kurang sempurna. Hindari penggunaan serbuk gergaji dari kayu yang bergetah karena getahnya dapat memicu kontaminan.
  • Kapas.
  • Bag log.


Alat

  • Ruang pemanasan yang suhunya dapat dikendalikan, digunakan untuk sterilisasi media.
  • Rak penempatan inkubasi.
  • Alat pengepres untuk memadatkan campuran media.
  • Spatula pengaduk bibit.


Teknik budidaya

Cara budidaya jamur tiram putih adalah sebagai berikut:

1. Persiapan media

  • Menambahkan air pada serbuk gergaji hingga kelembaban 55-65%.
  • Jika memakai campuran jagung, komposisinya adalah media gergaji (80%), bekatul (10%), dan tepung jagung (10%), namun jika tanpa tepung jagung komposisinya serbuk gergaji (15% dan 85%).
  • Tambahkan kapur dolomite hingga pH menjadi netral atau sekitar 7.
  • Campur berbagai bahan media berkali-kali dan pastikan semuanya tercampur dengan merata.

2. Pengemasan media

  • Bahan yang sudah tercampur merata dimasukkan dalam plastik.
  • Pres media sepadat mungkin dan pasang cincin pada mulut plastik lalu tutup dengan kapas. Fungsinya untuk membuat mulut media guna memasukkan bibit jamur.
  • Tutup kapas dan ujung media agar kapas tidak kena uap saat disterilisasi.

3. Sterilisasi

Cara budidaya jamur tiram putih erat kaitannya dengan sterilisasi media. Media yang baik harus bebas dari mikrobia pathogen seperti jamur dan bakteri. Oleh karenanya proses sterilisasi harus diperhatikan.

Berikut teknik sterilisasinya:

  • Agar tidak repot mensteril alat, saat sterilisasi media, masukkan sekalian spatula yang akan digunakan untuk menyebar bibit. Spatula dibungkus dalam plastik dan ditutup agar setelah dikeluarkan dari alat sterilisasi tidak terkena kontaminasi.
  • Tata media dalam ruang pemanas atau drum sterilisasi.
  • Panaskan media hingga suhu kurang lebih mencapai 90 derajat. Pertahankan pemanasan pada suhu tersebut selama 8-9 jam.
  • Biarkan drum tetap tertutup setidaknya setangah hari untuk menghindari penguapan air pada tepi plastik akibat perubahan suhu yang mendadak.

4. Inokulasi bibit jamur

  • Cuci kaki dan tangan dengan sabun anti kuman untuk meminimalisir kontaminan. Semprot tangan dengan alkohol 70%.
  • Keluarkan spatula dari plastik.
  • Buka tutup wadah bibit dan aduk bibit dengan spatula yang telah disterilisasi.
  • Buka kapas di mulut media dalam plastik, lalu tuangkan bibit dan tutup kembali media dengan kapas tersebut.
  • Pasang kembali tutup mulut media.
  • Bibit siap diinkubasi.

5. Inkubasi

  • Media yang sudah diberi bibit diletakkan dalam rak penyimpanan.
  • Masa inkubasi berkisar kurang lebih 40 hari dengan suhu optimal 22-28 derajat celcius.

6. Pemeliharaan

  • Pada tahap pemeliharaan penutup baglog sedikit dibuka.
  • Pastikan pula ventilasinya lancar sehingga suplai oksigennya terpenuhi dengan baik.
  • Pertahankan kelembaban udara dengan melakukan penyiraman.

7. Panen

Setelah badan jamur tumbuh besar dan lebar, jamur sudah bisa dipanen.

Selain teknik-teknik diatas, dalam cara budidaya jamur tiram putih memperhatikan pula lingkungan budidaya seperti halnya kelembaban. Semakin lembab tempat budidaya, resiko kontaminannya menjadi lebih tinggi.

Oleh karenanya jika dibudidayakan pada tempat yang lembab sebaiknya kurangi kadar nutrisi karena nutrisi dapat lebih cepat memicu pertumbuhan jamur dan bakteri.

Untuk mengerjakan budidaya jamur tiram, harus ada bibit jamur tiram. Bibit jamur tiram seperti juga bibit jamur lainnya tidak mudah didapatkan di sembarang tempat. Agar bisa membudidayakan jamur tiram beginilah cara membuat bibitnya.

* BIBIT JAMUR TIRAM F1

Proses yang pertama adalah pengambilan spora langsung dari indukan jamur/jamur dewasa. Suatu Jamur Tiram Putih dewasa mempunyai bilah-bilah atau sekat-sekat yang jumlahnya banyak. Di dalam bilah-bilah tersebut terdapat bagian yang disebut Basidia. Di ujung Basidia terdapat kantung yang berisi banyak spora atau disebut juga Basidiospore. Fungsi Spora adalah untuk berkembang biak.

Media yang biasa digunakan untuk menghasilkan kultur murni jamur konsumsi adalah Potatoes Dextrose Agar (PDA) yang dapat dibeli dalam bentuk siap pakai.

Dari satu tabung bibit F1 bisa digunakan untuk usaha budidaya jamur tiram skala menengah.

* BIBIT JAMUR TIRAM F2

Bibit Jamur tiram F2 (di ebsite lain ada yang menyebutnya F1), F2 yang saya bahas di website ini merupakan hasil turunan dari bibit F1. Dari satu tabung F1 bisa diturunkan menjadi 60 botol bibit F2.

Pembiakan tahap kedua bertujuan memperbanyak miselium jamur yang berasal dari biakan murni. Dari PDA dimasukkan ke media biji-bijian, bahannya berupa gandum, sorgum dan jagung. Kemasan yang digunakan botol.

* BIBIT JAMUR TIRAM F3

Dari bibit jamur tiram F2 diturunkan lagi menjadi bibit jamur tiram F3. media yang digunakan sama dengan yang digunakan pada F2. Pembiakan tahap ketiga ini juga bertujuan memperbanyak misellium dari bibit F2.

Dari bibit jamur F3 nantinya bisa digunakan untuk pembibitan pada media tanam (baglog) menjadi 30 baglog.

* MEDIA TANAM F4 (BAGLOG)

Pembiakan tahap keempat bertujuan memperbanyak miselium jamur yang berasal dari pembiakan tahap kedua. Media pembiakan berbeda dengan media pembiakan sebelumnya, karena media pembiakan tahap ketiga ini berhubungan dengan media tanam di kumbung. Bahannya berupa serbuk kayu gergaji, dedek bekatul, kapur, gypsum, tepung jagung, dan air. Media dengan bahan campuran serbuk kayu dan biji-bijian dianggap lebih baik karena kandungan unsur-unsur yang dibutuhkan jamur lebih lengkap.

sumber: usahajamur.co.cc

Ada teknologi yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram Pleurotus spp, yakni tahapan membuat media bibit induk (spawn) dan tahanan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahanan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan. Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik.

Langkah kedua, bahan baku dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau panci. Langkah ketiga, bahan baku tersebut ditiriskan dengan ayakan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sangat sedikit) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % dengan penambahan air sedikit dan pH 7.

Langkah keempat, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% media bibit, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil. Langkah kelima, sterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C.

Langkah keenam, lakukan inokulasi dengan laminar flow satu hari kemudian. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit). Langkah ketujuh, inkubasi (pertumbuhan miselium 15-21 hari) pada ruang inkubasi/inkubator, suhu 22-28 derajat C.

Langkah kedelapan, botol atau baglog isi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/mengeras. Kesembilan, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata.

Langkah terakhir, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit induk/bibit sehat perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit ini disimpan dalam lemari pendingin selama 1 tahun, bila tidak akan segera digunakan.

Tahap selanjutnya adalah memproduksi jamur tiram (Pleurotus spp). Dalam tahapan ini juga ada 10 langkah. Pertama, siapkan serbuk kayu gergajian albasia. Rendam selama 0-12 jam (bergantung pada spesies/strain serbuk kayu yang digunakan). Langkah kedua, tiriskan sampai tidak ada air, pada hari itu juga dengan mengunakan saringan kawat atau ayakan kawat.

Langkah ketiga, membuat subtrat/media tumbuh, pada hari itu juga. Tambahkan 5-15 % bekatul atau polar (bergantung pada spesies/strain yang digunakan), 2% kapur (CaCO3), 2% gypsum (CaSO4) dan air bersih, diaduk merata, kadar air substrat 65%, pH 7.

Langkah keempat, distribusikan kedalam baglog polipropilen pada ahri itu juga. Padatkan dalam wadah tersebut, beri lubang bagian tengah, dipasang mulut cincin pralon, kemudian ditutup dengan kapas/kertas minyak. Langkah kelima, sterilisasi/pasteurisasi, satu hari kemudian. Simpan dalam kamar uap atau kukus dalam drum dengan suhu media di dalam baglog 95-120 derajat C selama 1-3 kali 8 jam bergantung pada jumlah substrat yang akan di pasteurisasi. Langkah keenam, inokulasi substrat dengan spawn di ruang inokulasi. Setelahsuhu baglog substrat turun sampai suhu kamar, inokulasikan bibit pada substrat dalam laminar flow. Bibit 10-15gr/kg substrat.

Langkah ketujuh, inkubasi baglog substrat (pertumbuhan miselium 15-30 hari). Rumah jamur/kubung/ruang inkubasi dijaga tetap kering dan bersih, suhu 22-28 derajat C tanpa cahaya. Langkah kedelapan, baglog substrat dibuka cincin dibuka (7-15 hari kemudian). Cara membuka berbeda-beda, tergantung jenis jamur kayu yang digunakan.

Langkah kesembilan, baglog disusun di rak dalam rumah jamur (pertumbuhan jamur 10-15 hari kemudian, tumbuh pin head/bakal tumbuh buah). Bakal tumbuh buah tersebut disiram air bersih agar jamur tumbuh. Untuk jamur tiram, yang disiram rumah jamurnya. Untuk jamur kuping penyiraman langsung pada substrat sampai basah kuyup. Suhu rumah jamur 16-22 derajat C RH : 80-90 %.

Langkah terakhir panen jamur tiram/kuping. Panen kurang dari 9 kali dalam waktu kurang dari 1,5 bulan tergantung cara pemeliharaan/penyiraman jamur dan kebersihan kubung. Atau sisa panen 2-5 kali seminggu.

Faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya jamur tiram ini adalah masalah higienis, aplikasi bibit unggul, teknlogi produksi bibit (kultur murni, bibit induk, bibit sebar), teknologi produksi media tumbuh/substrat dan pemeliharaan serta cara panen jamur tiram.

Keunggulan jamur tiram cukup banyak, selain harga yang relatif mahal, tingkat keuntungan yang dihasilkan relatif tinggi, umur singkat, tanaman ini juga sangat laku di pasaran.
Selain itu, keunggulan lainnya, cara budidaya mudah dan dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak memerlukan lahan yang luas.
“Jamur tiram cukup toleran terhadap lingkungan dan dapat dijadikan sebagai pekerjaan pokok maupun pekerjaan sampingan,” kata Krisnadi, petani jamur tiram Pontianak.
Diversifikasi produk jamur tiram cukup banyak dapat bentuk segar, kering, kaleng, serta diolah menjadi keripik, pepes, tumis, dan nugget.
Rantai budidaya jamur tiram dimulai dari; serbuk gergaji, pengayakan, pencampuran, sterilisasi, inokulasi, inkubasi, spawn running, growing, dan pemanenan.
Krisnadi kemudian menjelaskan secara rinci mengenai budidaya jamur tiram. Untuk media tanamnya dapat berupa serbuk kayu (gergajian), jerami padi, alang-alang, limbah kertas, ampas tebu dan lainnya.
Sebagai campuran dapat ditambahkan bahan-bahan lain berupa bekatul (dedak) dan kapur pertanian dengan perbandingan 80:15: 5. Media dimasukkan dalam plastik polypropilen dan dipadatkan kemudian diseterilisasi selama 10-12 jam.
“Sterilisasi bertujuan untuk menekan pertumbuhan mikrobia lain yang bersifat antagonis dan menjadi penghambat pertumbuhan bagi tanaman induk dalam hal ini jamur tiram,” katanya.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara memanaskan baglog dengan uap panas selama 8-12 jam pada suhu ± 95 °C. Setelah sterilisasi selesai, baglog didinginkan dalam ruangan tertutup selama 24 jam untuk menghindari kontaminasi baglog.
Tahapan selanjutnya adalah proses inok ulasi. Inokulasi adalah proses penularan miselium dari bibit (F3) ke media tanam. Proses ini dilakukan dengan steril dan dalam ruang inokulasi. Mengenai bibit, sebelumnya ia mendapatkannya dari Lembang dan Jogja. “Sekarang kami sudah bisa memproduksi sendiri,” katanya.
Proses lanjutan yakni masa inkubasi yakni tahap penumbuhan miselia jamur. Proses ini memerlukan waktu kurang lebih 40 – 60 hari sampai baglog berwarna putih. Krisnadi menegaskan, suhu ruang inkubasi harus dijaga dalam kondisi yang stabil dan rendah cahaya 22- 28 °C dengan kelembaban 70 – 90 %.Setelah baglog berwarna putih merata, kemudian dipindahkan ke kumbung. Biasanya, umur baglog yang dipindahkan telah mencapai 40 hari.
Proses penumbuhan tubuh buah diawali dengan membuka ujung baglog untuk memberikan 02 pada tubuh buah jamur. Biasanya 7 -14 hari kemudian, tubuh buah akan tumbuh.
Setelah 7-30 hari sejak penyobekan baglog akan tumbuh tubuh buah yang terus mernbesar hingga mencapai pertumbuhan optimal yang siap dipanen (3-4 hari).
Kata Krisnadi, selama masa pemeliharaan suhu dan kelembaban udara harus dijaga dengan baik pada kisaran suhu 20 – 22 °C dan kelembaban 95 – 100 %, dengan cara pengembunan kumbung.
“Panen pertama 30 hari sejak penyobekan baglog, sedangkan pemanenan berikutnya setiap 10-14 hari. Tubuh buah yang sudah siap panen harus segara panen agar kualitas jamur baik,” katanya.
Bagaimana penanganan pascapanen? Kata dia, segera bersihkan jamur dari kotoran yang menempel pada tubuh buah jamur. Hal itu bertujuan untuk menjaga daya tahan produk.
“Jamur tiram segera disimpan dalam freezer agar tahan dalam waktu 1 sampai dua minggu,” katanya. Sementara untuk produk jamur kering, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari selama kurang lebih 5 hari.


Kalender

October 2014
M T W T F S S
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.